Pages

Monday, May 29, 2017

Latar belakang Kolonialisme dan Imperialisme



A.    Imperialisme
Imperialime berasal dari bahasa Latin (imperator atau imperare) yang berarti Raja. Imperialisme berarti wilayah kekuasaan dari seorang raja untuk melakukan perluasaan wilayah dengan menguasai daerah sekitar atau yang jauh dari wilayah kekuasaannya. Imperialisme pertama kali dilakukan oleh Raja Romawi (Julius Caesar) dengan mengadakan imperialisme di wilayah Asia Barat, Eropa Selatan, dan Afrika Utara. Pada perkembangan selanjutnya, imperialisme sering diartikan sebagai penjajahan oleh suatu bangsa terhadap bangsa dan daerah lainnya. Bentuk-bentuk imperialisme, antara lain:
1.      Berdasarkan waktu munculnya:
· Ø Imperialisme kuno berlangsung sebelum revolusi indursti. Tujuannya 3G (glory, gold, gospel). Negara yang menganut Spanyol dan Portugis.
· Ø Imperialisme modern berlangsung setelah muncul dan berkembangnya revolusi industry. Tujuannya ingin mengembangkan perekonomian (butuh bahan baku mentah yang dimiliki di Negara atau wilayah lain).
1.      Berdasarkan tujuan penguasaan:
· Ø Imperialisme politik betujuan menguasai kehidupan polotik suatu negara yang tersembunyi memalui bentuk protektorat dan mandotorium.
· Ø Imperialisme ekonomi bertujuan menguasai perekonomian suatu negara terhadap negara lain.
· Ø Imperialisme kebudayaan bertujuan menguasai mentalitas dan jiwa dari suatu bangsa. Imperialisme ini sulit diketahui dan dirasakan.
· Ø Imperialisme militer bertujuan menguasai daerah negara lain yang dianggap strategis dengan menggunakan kekuatan angkatan bersenjata.
Sebab-sebab munculnya imperialisme, antara lain:
· Ø Keinginan menjadi jaya dilakukan oleh negara denganperalatan perang modern untuk membuktikan kehebatannya contohnya Inggris di masa lalu.
· Ø Perasaan sebagai bangsa istimewa ditandai dengan memandang rendah bangsa-bangsa lain dan mengangap bangsanya terhebat contohnya Adolf Hitler dari Jerman.
· Ø Hasrat menyebarkan agama dan ideologi ditandai dengan bangkitnya ambisi menduduki bangsa lain karena merasa ideologi, pandangan hidup, dan agama yang dianut paling benar.
· Ø Hasrat menguasai daerah strategis dilakukan terhadap negare yang punya posisi sangat strategis dan memiliki hubungan erat dengan masalah perbatasan suatu negara.
· Ø Hasrat menimbun kekayaan dan harta ditandai dengan kekayaan alam negara tersebut terbatas dan ingin menguasai SDA di suatu negara untuk menunjang perkembangan industry negara tersebut.
Akibat perkembangan imperialisme, antara lain:
· Ø Dalam bidang politik dan ekonomi ditandai dengan negara imperialisme menjadi pusat kekayaan, sedangkan negara jajahan bertambah miskin.
· Ø Dalam bidang sosial dan budaya ditandai dengan kaum imperialisme hidup mewah dan maju, sedangkan negara jajahan hidup serba kekurangan.

B.   Kolonialisme
Kolinialisme berasal dari bahasa latin (colonial) yang berarti tanah, tanah pemukiman, atau tanah jajahan. Kolonialisme muncul pada zaman Yunani karena petani Yunani pindah dari negaranya yang tandus ke negara yang lebih subur. Tujuan mereka pindah untuk mengolah tanah di daerah yang baru sehingga dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Awalnya mereka sendiri, lalu setelah sukses membawa keluarganya. Mereka menganggap negara tersebut menjadi bagian Yunani sehingga penduduk Yunani yang di sana membayar upeti kepada pemerintah Yunani. Pada perkembangannya, kolonialisme sering diartikan sebagai sistem penjajahan yang dilakukan suatu negara terhadap negara lain.
Bentuk-bentuk kolonialisme, antara lain:
· Ø Kolonia penduduk ditandai dengan menetapnya sejumlah penduduk negara asal di negara koloni sehingga mendesak pribumi. Contoh suku Indian.
· Ø Koloni kelebihan penduduk dilakukan untuk mengatasi kepadatan penduduk asal. Contoh negara Jepang pada abad ke-20.
· Ø Koloni deportasi ditandai dengan menetapnya orang buangan (narapidana) untuk bekerja di wilayah tersebut. Contoh penjara-penjara Prancis di Kepulauan Pasifik.
· Ø Koloni eksploitasi ditandai dengan pengekploitasian di tanah tersebut. Contohnya bangsa Indonesia dikuras Belanda 3,5 abad.
· Ø Koloni sekunder merupakan tanah koloni yang tidak menguntungkan kolonialis, tapi tetap dipertahankan karena memiliki kepentingan strategis.
· Ø Koloni penunjang meliputi kota pelabuhan atau pulau kecil untuk pembangunan pangkalan militer.
Kolonial modern berkembang pada abad ke-16 ditandai dengan penemuan besar bangsa Eropa (portugis dan Spanyol). Abad ke-17 Ingrris, Prancis, Belnada menguasai Amerika Utara, hindia Barat, Hindia Muka (Asia Selatan), dan Hindia Belanda. Abad ke-19 hampir seluruh Afrika dikuasai Eropa dan mucul kolonialisator baru (Jerman, Italia, Belgia). Abad ke-20 muncul Jepang. Perkembangan itu bertujuan menguras sumber kekayaan daerah koloni demi pengolahan industry mereka.
II.          Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa dan Penanaman Modal Swasta Eropa di Indonesia
 a.    Sistem Sewa Tanah
1.      Gagasan Baru dalam Kebijakan Politik Ekonomi
Sejak VOC dibubarkan tahun 1799, Indonesia diserahkan kepada pemerintahan Kerajaan Belanda. Dua kaum elite Belanda mengadakan perundingan untuk menentukan kebijakan pemerintahan di tanah jajahan. Kaum liberal (melalui tokoh Dirk van Hogendrop) menganjurkan pemerintahh melaksanakan pemerintahan langsung dengan sistem pajak. Kaum konservatif menganjurkan pemerintah menggunakan sistem politik dan ekonomi sperti VOC.
Pemerintah menggunakan gagasan baru (campuran keduanya) saat pemerintahan Daendels. Daendels melalukan perombakan sistem pemerintahan secara radikal dengan meletakkan dasar sistem pemerintahan berdasarkan sistem Barat. Ia membagi jawa menjadi 9 perfektur dan mengangkat bupati sebagai pegawai Belanda. Namun, tidakan Daendles gagal karena keadaan kas Belanda kosong dan ia harus mempertahankan jawa dari serangan Inggris.

2.      Sistem Sewa Tanah sebagai Kebijakan Ekonomi Baru
Inggris berhasil menduduki Jawa. Raffles diangkat menjadi Wakil Gubernur Jenderal. Ia melaksanakan kebijakan menghapus kerja rodi, kebebasan menanami tanah, mengganti sistem pemerintahan dengan corak Barat, dan pemerintah kolonial adalah pemilik semua lahan. (Sistem ini dipakai juga oleh Belanda saat Indonesia kembali ke jajahannya).
Sistem tersebut tidak berhasil karena keuangan negara dan jumlah pegawai yang bagus tidak banyak, masyarakan Indonesia masih menunjukkan sifat kehidupan desa. Oleh sebab itu, pungutan pajak dilakukan berdasarkan kelompok desa bukan perorangan. Saat Indonesia kembali ke pemerintahan Belanda, Belanda tetap menjadikan Indonesia tanah jajahan yang memberikan keuntungan bagi Kerajaan Belanda.

3.      Sistem Tanam Paksa
Latar belakang dilakukannya sistem tanam paksa di Indonesia karena kadaan keuangan atau kas Belanda yang kosong. Melalui Van de Bosch, Belanda harus mengumpulkan uang kas dengan mewajibkan masyarakat melakukan penanaman yang hasilnya dapat dijual di pasar dunia. Masyarakat harus membayar pajak dalam bentuk barang. Barang tersebut yang dijual Belanda untuk menambah kas mereka dan Belanda pun mendapat keuntungan berlipat ganda. Pada awalnya, sistem tanam paksa dilakukan tanpa membebani masyarakat. Tetapi, pada praktiknya, sistem ini banyak melakukan penyimpangan yang sangat membebani masyarakat.
4.      Akibat Tanam Paksa
Akibat tanam paksa bagi masyarakat Indonesia adalah kemiskinan, kesengsaraan, dan kelaparan. Keadaan seperti ini menarik perhatian kaum liberalis dan humanis Belanda. Mereka makin menentang sistem tanam paksa. Hal tersebut tertuang dalam buku Max Havelaar yang ditulis Douwes Dekker. Melalui banyak kecaman, akhirnya sistem ini dihapus oleh pemerintah Belanda.
5.      Zaman Liberalisme di Indonesia.
Tahun 1850 kaum liberal memperoleh kemenangan di Belanda. Mereka menyatakan pemerintah tidak ikut campur dalam urusan ekonomu, perekonomian diserahkan kepada swasta.
Banyak orang swasta yang menanamkan modal di Indonesia dalam bentuk kegiatan perkebunan besar. Perkebunan itu dapat berjalan dengan baik berkat dukungan UU Agraria tahun 1870. Para swasta dapat menyewa tanah milik negara (hutan) dan milik perorangan (swah dan ladang pribadi). Para swasta hanya memikirkan keuntungan besar tanpa memperhatikan kehidupan rakyat.
Hal ini membuat masyarakat Indonesia makin menderita sehingga muncul kritik-kritik tajam. Kebijakan diharapkan tidak hanya menguntungkan pemerintah Belanda, tapi memperhatikan kehidupan masyarakat. Pada abad ke-19 dan ke-20 mucul kebijakan yang melandasi perbaikan kehidupan masyarakat Indonesia, kebijakan ini disebut kebijakan politik etis.
6.      Politik Etis
Melalui Brooschoft, ia menyarankan memprioritaskan kesejahteraan rakyat Indonesia karena menurutnya keberhasilan Belanda selama 1 abad berkat penderitaan bangsa Indonesia. Balas budi yang dilakukan dengan membangun irigasi, edukasi, dan migrasi.  Melalui pendidikan tersebut, bangsa Indonesia memperoleh pengetahuan dan menjadi cikal-bakal pergerakan serta perjuangan menentang kolonialisme. Perkembangan politik etis memberi sumbangan besar bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang kekuasaan 

No comments:

Post a Comment